Minggu, 20 Januari 2013

Konsep ajaran martabat tujuh


Disebarluaskan oleh Ibnu Fadllillah sebagaimana dipaparkan dalam kitabnya yang berjudul At – Tuhfatu l – Mursalah ilâ Rûhi n – nabî. Ajaran ini sebenarnya mendapat inspirasi dari ide tokoh besar Wahdatul – Wujûd yaitu Ibnu Arabi. Dasar dari konsep itu berangkat dari konsep tajallî (penampakan) Tuhan melalui tingkatan atau martabat.
1.      Ahadiyyah, yaitu martabat lâ ta’yun dan ithlaq. Allah dalam tingkatan pertama ini wujudnya masih tersembunyi. Tidak dikenali hakikatnya, karena keadaannya masih sunyi dari segala sifat, sandaran dan hubungan dengan lainnya. Ahadiyyah adalah martabat tertinggi, karena itu Allah masih merupakan Zat mutlak, atau Dzat Yang Maha Gaib, maka kedudukannya masih diselimuti msteri yang tak dapat dijangkau oleh pengetahuan apapun juga.
2.      Wahdah, merupakan awal dari realitas. Dalam martabat ini semua hal dalam kondisi garis besar. Belum ada pemilahan dan pembedaan, sehingga semuanya merupakan kesatuan yang mengandung kejamakan.
3.      Wahidiyyah atau tahap individuasi kedua. Pada martabat in setiap bagian – bagian sudah ada pemisahan dengan batas tertentu. Semua “ide” sudah ditetapkan dalam pengetahuan Allah. Perlu dijelaskan, bahwa dalam setiap martabat di atas kesemuanya merupakan pewujudan batin yang bersifat tetap dalam ilmu Allah. Selanjutnya dari ketiga martabat itu muncul martabat lahir yang bersifat baru. Ia disebut a’ dalam setiap martabat di atas kesemuanya merupakan pewujudan batin yang bersifat tetap dalam ilmu Allah. Selanjutnya dari ketiga martabat itu muncul martabat lahir yang bersifat baru. Ia disebut a’yân khârijiyyah (wujud luar atau wujud lahir) yang mengalir dari hakikat – hakikat yang tetap (a’yân tsâbitah ). Rinciannya masuk ke dalam martabat keempat dan seterusnya.
4.      Martabat Alam Arwah yang mewujudkan dirinya dalam alam roh, yaitu berupa badan halus (jism lathîf). Sebagai badan halus alam arwah tidak dapat diketahui oleh pancaindera, mata-kepala dan perasaan serta tidak dapat diserupakan.
5.      Martabat Alam Mitsal dalam  martabat ini keadaan masih merupakan susunan yang bersifat halus, tidak dapat disaksikan dengan pancaindra dan belum dapat dipisahkan.
6.      Martabat Alam Ajsam (tubuh), keadaannya sudah tersusun secara material sehingga dapat dibagi – bagi. Jadi sudah dapat diukur tebal tipisnya. Dalam martabat keenam ini Allah bertajallî pada realitas – realitas asma dan sifat – sifat – Nya dalam wujud yang actual yaitu alam semesta.
 7. Insan Kamil, merupakan perwujudan dari kumpulan kesatuan martabat batin maupun lahir. Dengan asumsi ini maka manusia diberi label sebagai mikrokosmos, sedangkan jagad raya adalah makrokosmos.
        
      (dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar