Jumat, 28 Juli 2017

Review Buku

Judul Buku          : Lupa Endonesa
Penulis                 : Sujiwo Tejo
No. ISBN              : 6028811874 (ISBN13 : 9786028811873)
Penerbit              : Bentang Pustaka
Tahun terbit       : 2012





   “Semua yang terjadi di ala mini ada pertandanya. Kalau kamu bisa mengerti bahasa tanpa kata-kata, bahasa pertanda, bahasa sanepo, kamu baru akan memahami dunia…” (halaman 26)
”Saya yakin orang Indonesia masih percaya pada kebaikan dan kejujuran. Tapi, saya nggak yakin mereka percaya bahwa kebaikan dan kejujuran bisa mereka jadikan jalan untuk mencapai cita-cita… .” (halaman 138)

                Sebuah karya apik oleh Sujiwo Tejo yang tak pernah jauh dari dunia pewayangan yang diramu secara kekinian. Tulisan dalam buku ini banyak menuangkan sindiran dalam bahasa yang  jenaka, dan seakan sebagai sebuah tulisan yang menggugat kehidupan bangsa Indonesia. Sujiwo Tejo menggunakan perumpamaan dalam kritiknya, seperti kemunculan punakawan, tokoh Limbuk, serta tokoh-tokoh Mahabarata. Pembaca diajak untuk bermain-main dengan alam imajinasi antara kehidupan politik masa kini dengan cerita wayang yang dirakit melenceng dari pakem. 

Review Buku

Judul Buku          : Sêrat Tripama : Gugur Cinta di Maespati
Penulis                 : Sujiwo Tejo
No. ISBN              : 6022911427 (ISBN13 : 9786022911425)
Penerbit              : Bentang Pustaka
Tahun terbit       : 2016




                “Sêrat Tripama : Gugur Cinta di Maespati,” sebuah novel grafis karya budayawan Sujiwo Tejo yang diadaptasi dari manuskrip karya Mangkunegara IV yang bertajuk Sêrat Tripama. Novel ini merupakan novel grafis pertama Sujiwo Tejo. Tak hanya menampilkan tulisan-tulisan semata, namun juga ilustrasi karyanya sendiri. Inilah yang membawa kesegaran baru pada karya Sujiwo Tejo.

                Novel ini menceritakan tokoh-tokoh wayang yang dikemas secara modern dan diramu dengan bahasa yang jenaka. Adapun tokohnya antara lain Sumantri, Arjuna Sasrabahu, Dewi Citrawati dan Sukrasana. Ada pula kisah cinta dilematis antara Sumantri, Dewi Citrawati, dan Arjuna Sasrabahu. Sumantri memulai perjalanan makrifatnya dengan mengabdikan diri kepada raja dari Maespati, Arjuna Sasrabahu. Sumantri diutus oleh Arjuna Sasrabahu untuk memboyong Dewi Citrawati dari Kerajaan Magada untuk dijadikan permaisuri. Perjuangan yang dilakoni Sumantri pun tidak mudah, karena di tempat itu, para raja dari penjuru negeri telah terlebih dahulu berkompetisi untuk mendapatkan Citrawati. Pada akhirnya Sumantri menang, dan memboyong Dewi Citrawati.


                Di tengah perjalanan memboyong Dewi Citrawati menuju Maespati, Dewi Citrawati berhenti untuk membersihkan diri di sebuah telaga. Sumantri bertugas menjaga, namun tiba-tiba Dewi Citrawati menjerit karena ada cacing yang lewat. Dengan sigap Sumantri segera menenangkan Dewi Citrawati. Tanpa diduga bersamaan dengan itu, Sumantri melihat mawar hitam jatuh. Ia pun tak bisa membiarkan mawar hitam jatuh, kemudian dipindahkanlah mawar hitam tersebut di tangan Dewi Citrawati dan saling jatuh cintalah keduanya. Karena cinta membutakan Sumantri, maka ia menantang rajanya untuk berduel untuk memperebutkan Dewi Citrawati. 

Jumat, 21 Juli 2017

Review Buku

Judul                     : “Rahvayana : Aku Lala Padamu”
No. ISBN              : 978 6022 910 336
Penulis                 : Sujiwo Tejo
Penerbit              : Bentang Pustaka





               
             Di angkasa petir bersuara, “Dewi Sukasalya titisan Dewi Widowati tak usah kamu cari-cari lagi, wahai penguasa Alengka Prabu Rahwana, karena Dewi Widowati masih akan menitis ke Dewi Sinta kelak.”
             Kelak? Rahwana makin bersedih. Dia bisa melalui lima puluh ribu tahun di Gunung Gohkarno dengan tapa berdiri hanya di atas satu kaki. Tapi, kelak itu kapan? (halaman 70).
             “…Kamu menganggap itu lezat, menu khas Kafe Angelina yang sekarang buka lapak di halaman bekas rumahku di Petit Trianon. Tapi kau lupa, lupa bagaimana luka dan kepedihan dalam sejarah beridirnya pembuat coklat itu… Ratu Louis XV disakiti Madame de Pomadour. Madame du Barry disakiti oleh Marie Antoinette. Rakyat disakiti oleh Maria Antoinette. Sinta, bukan Cuma piramida yang berdiri di atas sejarah para korban.” (halaman 178)
                “Rahvayana : Aku Lala Padamu,” sebuah imajinasi liar karya Sujiwo Tejo. Tulisan-tulisan yang disajikan dalam buku ini tampil jenaka namun berisi, serta beyond the limit. Ada semacam ‘resistensi’ terhadap pakem wayang pada umumnya, dimana peran Rahwana alias Dasamuka ini selalu tampil sebagai peran antagonis. Penulis mengajak para pembacanya untuk terhanyut dalam imajinasi percintaan dalam kisah Ramayana dalam sudut pandang yang lain. Dan imaji pembaca pun diajak menerawang pada imaji percintaan dari belahan dunia yang lain. Maka, tak jarang pula kita temukan kisah-kisah seperti Les Miserables hingga mengenai Firaun.
               Rahvayana tidak saja menyuguhkan lakon cerita pewayangan. Namun dengan permainan bahasa yang diramu Sujiwo Tejo, pembaca diajak bermain dengan imajinasi sekaligus membuka cakrawala baru mengenai tekstualisasi.
               


Kamis, 06 April 2017

Themis

Themis dalam mitologi Yunani adalah seorang Titan[1] wanita yang memiliki hubungan dekat dengan Zeus. Ia memiliki anak Horai dan Astraia dari Zeus. Ia juga di Delos untuk menyaksikan kelahiran Apollo. Themis berarti Hukum Alam. Ia adalah tubuh dari aturan, hukum, dan adat. Saat ia diacuhkan Zeus, Nemesis menyatakan bahwa Themis sangat marah. Tapi Themis tidaklah seperti itu. Themis malah menjadi yang pertama menawarkan cangkir pada Hera saat ia kembali ke Olimpus.
Themis merupakan salah satu Dewi yang memiliki kaitan dengan Orakel Delphi karena ia turut membangunnya. Ia menerimanya dari ibunya, Gaia dan memberikannya pada Foibe.
Banyak penganut neo-pagan terutama Neo-Pagan Hellenis menganggap Themis adalah dewi kebajikan dan keadilan. Banyak sekte modern menganggap Themis berperan menentukan kehidupan setelah mati. Ia membawa seperangkat timbangan yang digunakan untuk menimbang kebaikan dan keburukan seseorang. Themis juga memberikan masukan terakhir sebelum nasib sang jiwa tersebut ditentukan oleh Hades.
Pengikut Pagan Biasanya berdoa, membakar minyak dan kemenyan makanan atau menumpahkan minuman sebagai persembahan pada Themis. Mereka menganggap Themis menjanjikan kesehatan, kesenangan, kejantanan, dan kharisma bagi para pengikutnya. Themis biasanya disembah oleh para pria.
Personifikasi dari konsep abstrak merupakan cirri khas bangsa Yunani. Kemampuan Dewi Themis untuk melihat masa depan menjadikannya salah satu orakel di Delphi, yang pada akhirnya menjadikannya sebagai Dewi Keadilan. Beberapa penggambaran klasik mengenai Themis tidak menunjukkan dirinya buta ataupun memegang pedang (karena ia melambangkan kesepakatan bersama, bukan paksaan). Themis membangun Orakel di Delphi, dimana dirinya sendiri merupakan seorang peramal. Menurut versi lain, Themis menerima Orakel Delphi dari Gaia dan kemudian memberikannya pada Foibe.
Dalam mitologi Romawi, Themis dipadankan dengan Iustisia atau Justisia yang juga merupakan Dewi keadilan dan Hukum.
Orakel Delfi atau disebut Phytia adalah sebuah orakel terkenal di Yunani yang dilindungi oleh Dewa Apollo. Mereka terdiri dari imam-imam wanita yang bertugas di Kuil Dewa Apollo di kota Delfi yang terletak di lereng Gunung Parnassus, di bawah mata air ‘Castalian Spring’.  Kota Delfi sendiri disebut-sebut oleh bangsa Yunani sebagai pusat tata surya.
Ramalan dari imam wanita Phytia dipercaya berasal dari dewa Apollo. 

[1] Titan ada 12, yaitu Okeanos, Hiperion, Koios, Kronos, Krios, Mnemosine, Tethis, Theia, Foibe, Rea, Iapetos, Themis. Titan sendiri dalam mitologi Yunani adalah penguasa bumi sebelum para Dewa Olimpus. Pemimpin mereka bernama Kronos yang nantinya digulingkan oleh Zeus. Ke-12 Titan adalah anak dari Uranus (dewa langit)  dan Gaia (dewi bumi). Titan mengalami perang besar dengan para dewa Olimpus yang disebut Titanomakhia. Mayoritas Titan terlibat dengan perang ini. dalam perang ini Titan mengalami kekalahan dan pada waktu perang ikut bersama Kronos dibuang ke Tartaros. Ke-12 Titan tersebut merupakan Titan generasi pertama yang terdiri dari enam pria dan enam wanita.