Jumat, 28 Juli 2017

Review Buku

Judul Buku          : Lupa Endonesa
Penulis                 : Sujiwo Tejo
No. ISBN              : 6028811874 (ISBN13 : 9786028811873)
Penerbit              : Bentang Pustaka
Tahun terbit       : 2012





   “Semua yang terjadi di ala mini ada pertandanya. Kalau kamu bisa mengerti bahasa tanpa kata-kata, bahasa pertanda, bahasa sanepo, kamu baru akan memahami dunia…” (halaman 26)
”Saya yakin orang Indonesia masih percaya pada kebaikan dan kejujuran. Tapi, saya nggak yakin mereka percaya bahwa kebaikan dan kejujuran bisa mereka jadikan jalan untuk mencapai cita-cita… .” (halaman 138)

                Sebuah karya apik oleh Sujiwo Tejo yang tak pernah jauh dari dunia pewayangan yang diramu secara kekinian. Tulisan dalam buku ini banyak menuangkan sindiran dalam bahasa yang  jenaka, dan seakan sebagai sebuah tulisan yang menggugat kehidupan bangsa Indonesia. Sujiwo Tejo menggunakan perumpamaan dalam kritiknya, seperti kemunculan punakawan, tokoh Limbuk, serta tokoh-tokoh Mahabarata. Pembaca diajak untuk bermain-main dengan alam imajinasi antara kehidupan politik masa kini dengan cerita wayang yang dirakit melenceng dari pakem. 

Review Buku

Judul Buku          : Sêrat Tripama : Gugur Cinta di Maespati
Penulis                 : Sujiwo Tejo
No. ISBN              : 6022911427 (ISBN13 : 9786022911425)
Penerbit              : Bentang Pustaka
Tahun terbit       : 2016




                “Sêrat Tripama : Gugur Cinta di Maespati,” sebuah novel grafis karya budayawan Sujiwo Tejo yang diadaptasi dari manuskrip karya Mangkunegara IV yang bertajuk Sêrat Tripama. Novel ini merupakan novel grafis pertama Sujiwo Tejo. Tak hanya menampilkan tulisan-tulisan semata, namun juga ilustrasi karyanya sendiri. Inilah yang membawa kesegaran baru pada karya Sujiwo Tejo.

                Novel ini menceritakan tokoh-tokoh wayang yang dikemas secara modern dan diramu dengan bahasa yang jenaka. Adapun tokohnya antara lain Sumantri, Arjuna Sasrabahu, Dewi Citrawati dan Sukrasana. Ada pula kisah cinta dilematis antara Sumantri, Dewi Citrawati, dan Arjuna Sasrabahu. Sumantri memulai perjalanan makrifatnya dengan mengabdikan diri kepada raja dari Maespati, Arjuna Sasrabahu. Sumantri diutus oleh Arjuna Sasrabahu untuk memboyong Dewi Citrawati dari Kerajaan Magada untuk dijadikan permaisuri. Perjuangan yang dilakoni Sumantri pun tidak mudah, karena di tempat itu, para raja dari penjuru negeri telah terlebih dahulu berkompetisi untuk mendapatkan Citrawati. Pada akhirnya Sumantri menang, dan memboyong Dewi Citrawati.


                Di tengah perjalanan memboyong Dewi Citrawati menuju Maespati, Dewi Citrawati berhenti untuk membersihkan diri di sebuah telaga. Sumantri bertugas menjaga, namun tiba-tiba Dewi Citrawati menjerit karena ada cacing yang lewat. Dengan sigap Sumantri segera menenangkan Dewi Citrawati. Tanpa diduga bersamaan dengan itu, Sumantri melihat mawar hitam jatuh. Ia pun tak bisa membiarkan mawar hitam jatuh, kemudian dipindahkanlah mawar hitam tersebut di tangan Dewi Citrawati dan saling jatuh cintalah keduanya. Karena cinta membutakan Sumantri, maka ia menantang rajanya untuk berduel untuk memperebutkan Dewi Citrawati. 

Jumat, 21 Juli 2017

Review Buku

Judul                     : “Rahvayana : Aku Lala Padamu”
No. ISBN              : 978 6022 910 336
Penulis                 : Sujiwo Tejo
Penerbit              : Bentang Pustaka





               
             Di angkasa petir bersuara, “Dewi Sukasalya titisan Dewi Widowati tak usah kamu cari-cari lagi, wahai penguasa Alengka Prabu Rahwana, karena Dewi Widowati masih akan menitis ke Dewi Sinta kelak.”
             Kelak? Rahwana makin bersedih. Dia bisa melalui lima puluh ribu tahun di Gunung Gohkarno dengan tapa berdiri hanya di atas satu kaki. Tapi, kelak itu kapan? (halaman 70).
             “…Kamu menganggap itu lezat, menu khas Kafe Angelina yang sekarang buka lapak di halaman bekas rumahku di Petit Trianon. Tapi kau lupa, lupa bagaimana luka dan kepedihan dalam sejarah beridirnya pembuat coklat itu… Ratu Louis XV disakiti Madame de Pomadour. Madame du Barry disakiti oleh Marie Antoinette. Rakyat disakiti oleh Maria Antoinette. Sinta, bukan Cuma piramida yang berdiri di atas sejarah para korban.” (halaman 178)
                “Rahvayana : Aku Lala Padamu,” sebuah imajinasi liar karya Sujiwo Tejo. Tulisan-tulisan yang disajikan dalam buku ini tampil jenaka namun berisi, serta beyond the limit. Ada semacam ‘resistensi’ terhadap pakem wayang pada umumnya, dimana peran Rahwana alias Dasamuka ini selalu tampil sebagai peran antagonis. Penulis mengajak para pembacanya untuk terhanyut dalam imajinasi percintaan dalam kisah Ramayana dalam sudut pandang yang lain. Dan imaji pembaca pun diajak menerawang pada imaji percintaan dari belahan dunia yang lain. Maka, tak jarang pula kita temukan kisah-kisah seperti Les Miserables hingga mengenai Firaun.
               Rahvayana tidak saja menyuguhkan lakon cerita pewayangan. Namun dengan permainan bahasa yang diramu Sujiwo Tejo, pembaca diajak bermain dengan imajinasi sekaligus membuka cakrawala baru mengenai tekstualisasi.
               


Kamis, 06 April 2017

Themis

Themis dalam mitologi Yunani adalah seorang Titan[1] wanita yang memiliki hubungan dekat dengan Zeus. Ia memiliki anak Horai dan Astraia dari Zeus. Ia juga di Delos untuk menyaksikan kelahiran Apollo. Themis berarti Hukum Alam. Ia adalah tubuh dari aturan, hukum, dan adat. Saat ia diacuhkan Zeus, Nemesis menyatakan bahwa Themis sangat marah. Tapi Themis tidaklah seperti itu. Themis malah menjadi yang pertama menawarkan cangkir pada Hera saat ia kembali ke Olimpus.
Themis merupakan salah satu Dewi yang memiliki kaitan dengan Orakel Delphi karena ia turut membangunnya. Ia menerimanya dari ibunya, Gaia dan memberikannya pada Foibe.
Banyak penganut neo-pagan terutama Neo-Pagan Hellenis menganggap Themis adalah dewi kebajikan dan keadilan. Banyak sekte modern menganggap Themis berperan menentukan kehidupan setelah mati. Ia membawa seperangkat timbangan yang digunakan untuk menimbang kebaikan dan keburukan seseorang. Themis juga memberikan masukan terakhir sebelum nasib sang jiwa tersebut ditentukan oleh Hades.
Pengikut Pagan Biasanya berdoa, membakar minyak dan kemenyan makanan atau menumpahkan minuman sebagai persembahan pada Themis. Mereka menganggap Themis menjanjikan kesehatan, kesenangan, kejantanan, dan kharisma bagi para pengikutnya. Themis biasanya disembah oleh para pria.
Personifikasi dari konsep abstrak merupakan cirri khas bangsa Yunani. Kemampuan Dewi Themis untuk melihat masa depan menjadikannya salah satu orakel di Delphi, yang pada akhirnya menjadikannya sebagai Dewi Keadilan. Beberapa penggambaran klasik mengenai Themis tidak menunjukkan dirinya buta ataupun memegang pedang (karena ia melambangkan kesepakatan bersama, bukan paksaan). Themis membangun Orakel di Delphi, dimana dirinya sendiri merupakan seorang peramal. Menurut versi lain, Themis menerima Orakel Delphi dari Gaia dan kemudian memberikannya pada Foibe.
Dalam mitologi Romawi, Themis dipadankan dengan Iustisia atau Justisia yang juga merupakan Dewi keadilan dan Hukum.
Orakel Delfi atau disebut Phytia adalah sebuah orakel terkenal di Yunani yang dilindungi oleh Dewa Apollo. Mereka terdiri dari imam-imam wanita yang bertugas di Kuil Dewa Apollo di kota Delfi yang terletak di lereng Gunung Parnassus, di bawah mata air ‘Castalian Spring’.  Kota Delfi sendiri disebut-sebut oleh bangsa Yunani sebagai pusat tata surya.
Ramalan dari imam wanita Phytia dipercaya berasal dari dewa Apollo. 

[1] Titan ada 12, yaitu Okeanos, Hiperion, Koios, Kronos, Krios, Mnemosine, Tethis, Theia, Foibe, Rea, Iapetos, Themis. Titan sendiri dalam mitologi Yunani adalah penguasa bumi sebelum para Dewa Olimpus. Pemimpin mereka bernama Kronos yang nantinya digulingkan oleh Zeus. Ke-12 Titan adalah anak dari Uranus (dewa langit)  dan Gaia (dewi bumi). Titan mengalami perang besar dengan para dewa Olimpus yang disebut Titanomakhia. Mayoritas Titan terlibat dengan perang ini. dalam perang ini Titan mengalami kekalahan dan pada waktu perang ikut bersama Kronos dibuang ke Tartaros. Ke-12 Titan tersebut merupakan Titan generasi pertama yang terdiri dari enam pria dan enam wanita. 

Selasa, 03 Mei 2016

Bahasa dan Sastra Jawa (bagian II)

Salah satu keistimewaan Bahasa Jawa adalah dengan penggunaan tingkat tutur, yang sering juga disebut undha usuk, tingkat ujaran, atau speech level.

Unggah-ungguh merupakan tata bahasa yang digunakan menurut kaidah tata krama yang berlaku. Tata krama disini dapat pula diartikan sebagai tata cara berkomunikasi dengan orang lain, termasuk dalam tingkah laku.

Jenis Unggah – ungguh / tata bahasa
Berdasarkan wujud kalimatnya, dibagi atas 3, yaitu basa ngoko, madya, dan krama.
Menurut Ki Padmasusastra (1899), unggah – ungguh bahasa terdapat 6 tataran bahasa, yaitu :

Basa Ngoko
1. Ngoko Lugu
2. Ngoko Andhap :
    a.) Antya Basa
    b.) Basa Antya

Basa Krama
1. Wredha Krama
2. Madya Krama
3. Madyantara

Krama Inggil
Krama Desa
Basa Kedhaton atau Basa Bagongan
Basa Kasar

Menurut Soepomo Poedjosoedarmo, dkk (1979), unggah-ungguh basa terbagi dalam :
Krama :
-          Mudha Krama
-          Kramantara (jarang terdengar)
-          Wredha Krama
Madya :
-          Madya Krama
-          Madyantara
-          Madya Ngoko
Ngoko :
-          Basa Antya
-          Antya Basa
-          Ngoko Lugu

Menurut Soedaryanto ( 1987), serta Sri Satriya Tjatur Wisnu Sasangka (2004), unggah-ungguh basa pada jaman sekarang terbagi  atas 4 tataran, yaitu :
1. Ngoko Lugu
2. Ngoko Alus
3. Krama Lugu

4. Krama Alus


                                                           -Bersambung-

Senin, 11 April 2016

Bahasa dan Sastra Jawa (Bagian I)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang didalamnya terdapat keanekaragaman budaya dan bahasa, salah satu yang akan saya tulis adalah tentang bahasa dan sastra Jawa. Pemerintah, institusi pendidikan, keluarga, dan lingkungan sekitar merupakan sarana pembelajaran dan pelestarian bahasa yang cukup efektif, Ada beberapa ulasan mengenai pelestarian bahasa dan budaya daerah, khususnya mengenai bahasa dan budaya Jawa yang seringkali terlupa oleh masyarakat.

Dasar Hukum 

Bahasa dan budaya daerah perlu dilestarikan, adapun dasar hukum yang mengatur tentang pelestarian bahasa dan budaya daerah tertuang pada UUD 1945 Bab XIII pasal 32, yang berisi :

(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
(2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.

berdasarkan undang - undang tersebut, ada baiknya kita bangga sebagai rakyat Indonesia, serta bangga dengan kekayaan budaya daerah kita.

Kedudukan Bahasa Daerah 

Bahasa daerah, perlu dilestarikan sebab memiliki beberapa manfaat, antara lain :

(1) sebagai lambang kebanggan daerah
(2) sebagai lambang identitas (jati diri) daerah
(3) sebagai media komunikasi antar individu, keluarga, serta masyarakat.

Mengapa Perlu Memperlajari Bahasa Daerah ?

ada beberapa sebab mengapa seseorang mempelajari tentang budaya dan bahasa daerah, antara lain :

(1) alasan instrumental : yaitu mempelajari bahasa dengan tujuan untuk menambah ketrampilan dan kecakapan.
(2) alasan integratif : yaitu mempelajari bahasa daerah untuk meneliti tentang ajaran, filsafat, dan pelajaran hidup dari bahasa dan budaya yang inti ajarannya relevan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada masa-masa seperti sekarang yang memasuki era globalisasi, serta kemudahan mengakses informasi dari berbagai belahan dunia, membuat budaya dan bahasa lokal semakin lama-semakin pudar, termasuk tentang tata krama, norma kesusilaan, bahasa, dan sastra daerah.
Peran media komunikasi sangat penting dalam pelestarian budaya dan bahasa daerah, sehingga budaya asli tidak semakin luntur, para generasi muda pun bisa menjadi generasi yang mumpuni, berbudi luhur, memiliki rasa kasih terhadap sesama, dan menjadi pribadi yang tangguh.

Fungsi dan guna mempelajari bahasa dan budaya daerah :
(1) sebagai sarana komunikasi
(2) sebagai sarana edukasi
(3) untuk mempelajari nilai kultural suatu daerah

Mengapa Bahasa Jawa masih tetap lestari?

Beberapa alasan mengapa bahasa dan budaya Jawa masih tetap lestari :

(1) Tradisi budaya dan kesusastraan Jawa telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan Keraton, media lokal serta lembaga pecinta budaya sangat berpengaruh dalam perkembangan budaya dan kesusastraan Jawa. Masih banyaknya koleksi literatur yang dikenal dan  tersimpan baik juga merupakan bukti kelangsungan budaya dan kesusatraan Jawa.

(2) Masih banyaknya pecinta budaya dan bahasa Jawa yang tersebar di berbagai daerah. Mulai dari kalangan generasi lawas, generasi muda, priyayi, akademisi, sastrawan, budayawan, seniman.

(3) Masih banyaknya penutur bahasa Jawa di antara populernya bahasa asing lainnya. Penutur tersebut bukan hanya berasal dari masyarakat nusantara, namun para penutur dari belahan dunia yang lain, misalnya di Suriname, Kaledonia baru, bahkan sampai kawasan Aruba dan Curacao, serta Belanda. Sebagian kecil menyebar ke wilayah Guyana Perancis, Venezuela. Peran tenaga kerja yang hijrah ke suatu tempat pun mempengaruhi diaspora bahasa dan budaya Jawa.

Jangan sampai budaya dan bahasa Jawa semakin lama semakin luntur karena adanya mindset bahwa bahasa Jawa itu rumit, susah, tidak keren, tidak ada gunanya mempelajari bahasa lokal ketimbang bahasa lain. Jangan sampai menjadi "wong Jawa ilang Jawane, ilang lan luntur kapribaden saha jatidirine" (orang Jawa yang kehilangan sifat ke-Jawaannya, hilang dan luntur kepribadian dan jatidirinya).

Hal Kebahasaan
Budaya Jawa mengandung beberapa hal istimewa antara lain masih kentalnya berbagai aspek budaya yang terkait dengan filosofi, masih adanya aksara Jawa, serta tak lupa tentang unsur kebahasaannya, yang terdiri dari bahasa lisan dan tulisan.
Banyak kata-kata dalam bahasa Jawa yang terpengaruh kata-kata dari bahasa asing, misalnya belanda, bahasa timur tengah, serta bahasa Jawa kuna, hal ini tak luput dari segi historis masyarakat Jawa. Misal kata sepur yang berasal dari bahasa Belanda spoor, sreban yang berasal dari bahasa Persia saurban.


Sumber :
Catatan Kuliah Kemahiran Bahasa Jawa I
id.wikipedia,org


                                                  -bersambung-

Senin, 16 November 2015

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Ganjuran

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Ganjuran, merupakan salah satu Gereja yang sangat unik dan kental sekali dengan budaya Jawa. Terletak di bagian selatan Yogyakarta, tepatnya di wilayah Bambanglipuro, kabupaten Bantul. Gereja ini menjadi salah satu tempat hening tak hanya bagi para umat Kristiani, namun tempat ini banyak pula dikunjungi oleh masyarakat umum.

Candi HKTY Ganjuran
Dokumentasi Pribadi



Sekelumit Sejarah Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran

Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran berdiri pada 16 April 1924, namun baru beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 20 Agustus 1924, Vicaris Apostolik Batavia Mgr. J. M Van Velsen hadir di Ganjuran untuk memberkati altar. Dibangun atas prakarsa Keluarga Schmutzer, sebuah keluarga yang memiliki pabrik gula di area yang sekarang menjadi kompleks Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran. Hal ini membuktikan bahwa Kelaurga Schmutzer tidak hanya memikirkan kesejahteraan masyarakat dalam bentuk ekonomi saja, namu juga perkembangan kekatolikan. Sebagai seorang Belanda yang jatuh cinta pada budaya Jawa, Schmutzer memiliki keinginan membuat sebuah gereja dengan corak Jawa. Oleh karena itu, Schmutzer meminta izin kepada Tahta Suci untuk membangun gereja dengan corak Jawa. Namun, hanya patung Altar Jawa dan patung Hati Kudus Yesus yang disetujui oleh Tahta Suci. Bangunan Gereja masih menggunakan gaya bangunan Belanda.


Ornamen gapura masuk Gereja HKTY Ganjuran
Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi


Pada sekitar tahun 1912, Schmutzer bersaudara, Julius dan Yoseph Schmutzer mulai mengamalkan ajaran sosial gereja bagi kaum buruh yang tertuang dalam Rerum Novarum. Keluarga Schmutzer mulai membangun fasilitas sekolah pada sekitar tahun 1919.
Pada sekitar tahun 1920, Pastor Van Driessch mulai berkarya di tempat ini. Pada tahun 1922 terdapat 22 orang Katolik Jawa, jumlah ini terus bertambah. Pada 16 April 1924, Gereja Katolik Hati Kudus Yesus mulai dibangun dengan nuansa Jawa.
Pahatan patung dikerjakan oleh seorang seniman Jawa bernama Iko. Tiga tahun kemudian mulai didirikan candi Hati Kudus Yesus tepat di depan rumah Keluarga Schmutzer. Tinggi Candi sekitar 10 meter, dengan bangunan candi bergaya Hindu yang diilhami dari Candi Prambanan. Selain itu, Candi juga dipengaruhi budaya Jawa para patung dan ornamennya. Batu yang digunakan untuk membuat candi diambil dari lereng Gunung Merapi, sedangkan pintu masuk terletak di sebelah selatan, hal tersebut seperti apa yang dipercaya masyarakat Jawa tentang harmoni antara arah utara dan selatan, harmoni antara gunung dan laut.



Dokumentasi Pribadi




Bangunan utama gereja berbentuk Joglo, dengan hiasan ornamen bergaya Jawa, serta pahatan-pahatan. Bangunan Gereja juga dihiasi sebuah jajaran genjang di langit-langit yang disebut dengan wajikan yang dihiasi dengan pahatan kayu berbentuk nanas. Sedangkan altarnya dihiasi dengan patung Malaikat dalam versi Jawa.

Tujuan dari pembangunan candi tersebut adalah sebagai monumen atas keberhasilan pabrik gulanya (Gondanglipuro) yang lolos dari krisis keuangan yang melanda dunia saat itu. Dimana pada saat itu banyak pabrik gula yang bangkrut, namun pabrik gula Keluarga Schmutzer mampu bertahan. Selain sebagai monumen ungkapan syukur atas kejayaan pabrik gula, monumen ini juga dibuat sebagai ungkapan iman Schmutzer kepada Hati Kudus Yesus dalam bentuk kebudayaan Jawa. Peletakan batu pertama pembangunan candi Ganjuran dilakukan pada tanggal 26 Desember 1927 oleh Mgr. Van Velsen, SJ. Pada waktu itu juga dilakukan pemberkatan patung Hati Kudus kecil yang ditanam di dalam.


Patung Sampeyan Dalem Maha Prabu Yesus Kristus Pangeraning Para Bangsa
Dokumentasi Pribadi

Julius Schmutzer jatuh sakit dan harus mendapatkan perawatan serius, oleh karena itu pada tahun 1934 keluarga Scmutzer memutuskan untuk kembali ke Belanda, dan menetap di Arnheim. Pengelolaan pabrik gula diserahkan kepada seorang administratur yang ditunjuk oleh keluarga Schmutzer. Kepergian keluarga Schmutzer berdampak bagi para katekis awam, karena sebelumnya semua fasilitas didapat dari keluarga Schmutzer. Mereka dengan mandiri untuk terus mengajar agama di berbagai tempat. Demikian pula dengan pastur yang berkarya di Gereja Ganjuran tidak lagi mendapatkan fasilitas dari pabrik gula. Ada 3 orang pastor yang berkarya di Gereja Ganjuran sampai tahun 1934, yaitu H. van Driessch, SJ, F. Strater, SJ, dan A. Djajaseputra, SJ. Sekolah-sekolah yang dibangun oleh keluarga Schmutzer diserahkan kepada Yayasan Kanisius. Tahun 1934-1940 merupakan masa persiapan menjadi sebuah paroki yang diperjuangkan oleh pastor A. Soegijapranata, SJ dan pastor A. Elfrank, SJ, namun baru resmi menjadi sebuah paroki pada tahun 1940 dengan pastor A. Soegijapranata, SJ menjadi pastor paroki yang pertama. Seiring perkembangan umat Katolik yang pesat, bangunan Gereja tidak lagi mampu menampung umat yang semakin banyak. Pada tahun 1942, dilakukan perluasan gedung ke arah barat dengan panjang sekitar 15 meter oleh pastor Soegijapranata, SJ.



Dyah Mariyah Iboe Ganjuran
Dok. Pribadi
Pada tahun 2006, gempa dahsyat mengguncang wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, dan Gereja ini mengalami kerusakan yang cukup parah, serta mengalami proses renovasi.




Bangunan bagian dalam Gereja
Kegiatan peribadatan dilakukan baik di dalam gereja, maupun di pelataran candi, dan pada beberapa perayaan masih menggunakan unsur budaya Jawa yang kental, misal dengan penggunaan Gamelan, kostum liturgi yang menggunakan unsur budaya Jawa. 
Di kompleks Gereja Katolik Hati Kudus Yesus juga terdapat panti asuhan, kompleks sekolah dan rumah sakit. Selain gereja dan sekolah, keluarga Schmutzer juga membangun Rumah Sakit di Yogyakarta, antara lain Rumah Sakit Elisabeth, serta Rumah Sakit Panti Rapih, yang dulunya bernama Onder De Bogen
Peziarah yang datang bukan hanya peziarah dari kalangan umat Nasrani saja, namun banyak umat berbeda keyakinan yang datang dan berziarah di tempat ini, karena Tuhan ada dalam diri setiap manusia. Heneng, hening, henung.

Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Ganjuran_Church
http://gerejaganjuran.org/site/profile/ganjuran
pengalaman pribadi
buku panduan doa Candi Hati Kudus Yesus ganjuran


Foto : Dokumentasi Pribadi