Jumat, 21 Juli 2017

Review Buku

Judul                     : “Rahvayana : Aku Lala Padamu”
No. ISBN              : 978 6022 910 336
Penulis                 : Sujiwo Tejo
Penerbit              : Bentang Pustaka





               
             Di angkasa petir bersuara, “Dewi Sukasalya titisan Dewi Widowati tak usah kamu cari-cari lagi, wahai penguasa Alengka Prabu Rahwana, karena Dewi Widowati masih akan menitis ke Dewi Sinta kelak.”
             Kelak? Rahwana makin bersedih. Dia bisa melalui lima puluh ribu tahun di Gunung Gohkarno dengan tapa berdiri hanya di atas satu kaki. Tapi, kelak itu kapan? (halaman 70).
             “…Kamu menganggap itu lezat, menu khas Kafe Angelina yang sekarang buka lapak di halaman bekas rumahku di Petit Trianon. Tapi kau lupa, lupa bagaimana luka dan kepedihan dalam sejarah beridirnya pembuat coklat itu… Ratu Louis XV disakiti Madame de Pomadour. Madame du Barry disakiti oleh Marie Antoinette. Rakyat disakiti oleh Maria Antoinette. Sinta, bukan Cuma piramida yang berdiri di atas sejarah para korban.” (halaman 178)
                “Rahvayana : Aku Lala Padamu,” sebuah imajinasi liar karya Sujiwo Tejo. Tulisan-tulisan yang disajikan dalam buku ini tampil jenaka namun berisi, serta beyond the limit. Ada semacam ‘resistensi’ terhadap pakem wayang pada umumnya, dimana peran Rahwana alias Dasamuka ini selalu tampil sebagai peran antagonis. Penulis mengajak para pembacanya untuk terhanyut dalam imajinasi percintaan dalam kisah Ramayana dalam sudut pandang yang lain. Dan imaji pembaca pun diajak menerawang pada imaji percintaan dari belahan dunia yang lain. Maka, tak jarang pula kita temukan kisah-kisah seperti Les Miserables hingga mengenai Firaun.
               Rahvayana tidak saja menyuguhkan lakon cerita pewayangan. Namun dengan permainan bahasa yang diramu Sujiwo Tejo, pembaca diajak bermain dengan imajinasi sekaligus membuka cakrawala baru mengenai tekstualisasi.
               


Kamis, 06 April 2017

Themis

Themis dalam mitologi Yunani adalah seorang Titan[1] wanita yang memiliki hubungan dekat dengan Zeus. Ia memiliki anak Horai dan Astraia dari Zeus. Ia juga di Delos untuk menyaksikan kelahiran Apollo. Themis berarti Hukum Alam. Ia adalah tubuh dari aturan, hukum, dan adat. Saat ia diacuhkan Zeus, Nemesis menyatakan bahwa Themis sangat marah. Tapi Themis tidaklah seperti itu. Themis malah menjadi yang pertama menawarkan cangkir pada Hera saat ia kembali ke Olimpus.
Themis merupakan salah satu Dewi yang memiliki kaitan dengan Orakel Delphi karena ia turut membangunnya. Ia menerimanya dari ibunya, Gaia dan memberikannya pada Foibe.
Banyak penganut neo-pagan terutama Neo-Pagan Hellenis menganggap Themis adalah dewi kebajikan dan keadilan. Banyak sekte modern menganggap Themis berperan menentukan kehidupan setelah mati. Ia membawa seperangkat timbangan yang digunakan untuk menimbang kebaikan dan keburukan seseorang. Themis juga memberikan masukan terakhir sebelum nasib sang jiwa tersebut ditentukan oleh Hades.
Pengikut Pagan Biasanya berdoa, membakar minyak dan kemenyan makanan atau menumpahkan minuman sebagai persembahan pada Themis. Mereka menganggap Themis menjanjikan kesehatan, kesenangan, kejantanan, dan kharisma bagi para pengikutnya. Themis biasanya disembah oleh para pria.
Personifikasi dari konsep abstrak merupakan cirri khas bangsa Yunani. Kemampuan Dewi Themis untuk melihat masa depan menjadikannya salah satu orakel di Delphi, yang pada akhirnya menjadikannya sebagai Dewi Keadilan. Beberapa penggambaran klasik mengenai Themis tidak menunjukkan dirinya buta ataupun memegang pedang (karena ia melambangkan kesepakatan bersama, bukan paksaan). Themis membangun Orakel di Delphi, dimana dirinya sendiri merupakan seorang peramal. Menurut versi lain, Themis menerima Orakel Delphi dari Gaia dan kemudian memberikannya pada Foibe.
Dalam mitologi Romawi, Themis dipadankan dengan Iustisia atau Justisia yang juga merupakan Dewi keadilan dan Hukum.
Orakel Delfi atau disebut Phytia adalah sebuah orakel terkenal di Yunani yang dilindungi oleh Dewa Apollo. Mereka terdiri dari imam-imam wanita yang bertugas di Kuil Dewa Apollo di kota Delfi yang terletak di lereng Gunung Parnassus, di bawah mata air ‘Castalian Spring’.  Kota Delfi sendiri disebut-sebut oleh bangsa Yunani sebagai pusat tata surya.
Ramalan dari imam wanita Phytia dipercaya berasal dari dewa Apollo. 

[1] Titan ada 12, yaitu Okeanos, Hiperion, Koios, Kronos, Krios, Mnemosine, Tethis, Theia, Foibe, Rea, Iapetos, Themis. Titan sendiri dalam mitologi Yunani adalah penguasa bumi sebelum para Dewa Olimpus. Pemimpin mereka bernama Kronos yang nantinya digulingkan oleh Zeus. Ke-12 Titan adalah anak dari Uranus (dewa langit)  dan Gaia (dewi bumi). Titan mengalami perang besar dengan para dewa Olimpus yang disebut Titanomakhia. Mayoritas Titan terlibat dengan perang ini. dalam perang ini Titan mengalami kekalahan dan pada waktu perang ikut bersama Kronos dibuang ke Tartaros. Ke-12 Titan tersebut merupakan Titan generasi pertama yang terdiri dari enam pria dan enam wanita. 

Selasa, 03 Mei 2016

Bahasa dan Sastra Jawa (bagian II)

Salah satu keistimewaan Bahasa Jawa adalah dengan penggunaan tingkat tutur, yang sering juga disebut undha usuk, tingkat ujaran, atau speech level.

Unggah-ungguh merupakan tata bahasa yang digunakan menurut kaidah tata krama yang berlaku. Tata krama disini dapat pula diartikan sebagai tata cara berkomunikasi dengan orang lain, termasuk dalam tingkah laku.

Jenis Unggah – ungguh / tata bahasa
Berdasarkan wujud kalimatnya, dibagi atas 3, yaitu basa ngoko, madya, dan krama.
Menurut Ki Padmasusastra (1899), unggah – ungguh bahasa terdapat 6 tataran bahasa, yaitu :

Basa Ngoko
1. Ngoko Lugu
2. Ngoko Andhap :
    a.) Antya Basa
    b.) Basa Antya

Basa Krama
1. Wredha Krama
2. Madya Krama
3. Madyantara

Krama Inggil
Krama Desa
Basa Kedhaton atau Basa Bagongan
Basa Kasar

Menurut Soepomo Poedjosoedarmo, dkk (1979), unggah-ungguh basa terbagi dalam :
Krama :
-          Mudha Krama
-          Kramantara (jarang terdengar)
-          Wredha Krama
Madya :
-          Madya Krama
-          Madyantara
-          Madya Ngoko
Ngoko :
-          Basa Antya
-          Antya Basa
-          Ngoko Lugu

Menurut Soedaryanto ( 1987), serta Sri Satriya Tjatur Wisnu Sasangka (2004), unggah-ungguh basa pada jaman sekarang terbagi  atas 4 tataran, yaitu :
1. Ngoko Lugu
2. Ngoko Alus
3. Krama Lugu

4. Krama Alus


                                                           -Bersambung-

Senin, 11 April 2016

Bahasa dan Sastra Jawa (Bagian I)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang didalamnya terdapat keanekaragaman budaya dan bahasa, salah satu yang akan saya tulis adalah tentang bahasa dan sastra Jawa. Pemerintah, institusi pendidikan, keluarga, dan lingkungan sekitar merupakan sarana pembelajaran dan pelestarian bahasa yang cukup efektif, Ada beberapa ulasan mengenai pelestarian bahasa dan budaya daerah, khususnya mengenai bahasa dan budaya Jawa yang seringkali terlupa oleh masyarakat.

Dasar Hukum 

Bahasa dan budaya daerah perlu dilestarikan, adapun dasar hukum yang mengatur tentang pelestarian bahasa dan budaya daerah tertuang pada UUD 1945 Bab XIII pasal 32, yang berisi :

(1) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
(2) Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.

berdasarkan undang - undang tersebut, ada baiknya kita bangga sebagai rakyat Indonesia, serta bangga dengan kekayaan budaya daerah kita.

Kedudukan Bahasa Daerah 

Bahasa daerah, perlu dilestarikan sebab memiliki beberapa manfaat, antara lain :

(1) sebagai lambang kebanggan daerah
(2) sebagai lambang identitas (jati diri) daerah
(3) sebagai media komunikasi antar individu, keluarga, serta masyarakat.

Mengapa Perlu Memperlajari Bahasa Daerah ?

ada beberapa sebab mengapa seseorang mempelajari tentang budaya dan bahasa daerah, antara lain :

(1) alasan instrumental : yaitu mempelajari bahasa dengan tujuan untuk menambah ketrampilan dan kecakapan.
(2) alasan integratif : yaitu mempelajari bahasa daerah untuk meneliti tentang ajaran, filsafat, dan pelajaran hidup dari bahasa dan budaya yang inti ajarannya relevan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada masa-masa seperti sekarang yang memasuki era globalisasi, serta kemudahan mengakses informasi dari berbagai belahan dunia, membuat budaya dan bahasa lokal semakin lama-semakin pudar, termasuk tentang tata krama, norma kesusilaan, bahasa, dan sastra daerah.
Peran media komunikasi sangat penting dalam pelestarian budaya dan bahasa daerah, sehingga budaya asli tidak semakin luntur, para generasi muda pun bisa menjadi generasi yang mumpuni, berbudi luhur, memiliki rasa kasih terhadap sesama, dan menjadi pribadi yang tangguh.

Fungsi dan guna mempelajari bahasa dan budaya daerah :
(1) sebagai sarana komunikasi
(2) sebagai sarana edukasi
(3) untuk mempelajari nilai kultural suatu daerah

Mengapa Bahasa Jawa masih tetap lestari?

Beberapa alasan mengapa bahasa dan budaya Jawa masih tetap lestari :

(1) Tradisi budaya dan kesusastraan Jawa telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan Keraton, media lokal serta lembaga pecinta budaya sangat berpengaruh dalam perkembangan budaya dan kesusastraan Jawa. Masih banyaknya koleksi literatur yang dikenal dan  tersimpan baik juga merupakan bukti kelangsungan budaya dan kesusatraan Jawa.

(2) Masih banyaknya pecinta budaya dan bahasa Jawa yang tersebar di berbagai daerah. Mulai dari kalangan generasi lawas, generasi muda, priyayi, akademisi, sastrawan, budayawan, seniman.

(3) Masih banyaknya penutur bahasa Jawa di antara populernya bahasa asing lainnya. Penutur tersebut bukan hanya berasal dari masyarakat nusantara, namun para penutur dari belahan dunia yang lain, misalnya di Suriname, Kaledonia baru, bahkan sampai kawasan Aruba dan Curacao, serta Belanda. Sebagian kecil menyebar ke wilayah Guyana Perancis, Venezuela. Peran tenaga kerja yang hijrah ke suatu tempat pun mempengaruhi diaspora bahasa dan budaya Jawa.

Jangan sampai budaya dan bahasa Jawa semakin lama semakin luntur karena adanya mindset bahwa bahasa Jawa itu rumit, susah, tidak keren, tidak ada gunanya mempelajari bahasa lokal ketimbang bahasa lain. Jangan sampai menjadi "wong Jawa ilang Jawane, ilang lan luntur kapribaden saha jatidirine" (orang Jawa yang kehilangan sifat ke-Jawaannya, hilang dan luntur kepribadian dan jatidirinya).

Hal Kebahasaan
Budaya Jawa mengandung beberapa hal istimewa antara lain masih kentalnya berbagai aspek budaya yang terkait dengan filosofi, masih adanya aksara Jawa, serta tak lupa tentang unsur kebahasaannya, yang terdiri dari bahasa lisan dan tulisan.
Banyak kata-kata dalam bahasa Jawa yang terpengaruh kata-kata dari bahasa asing, misalnya belanda, bahasa timur tengah, serta bahasa Jawa kuna, hal ini tak luput dari segi historis masyarakat Jawa. Misal kata sepur yang berasal dari bahasa Belanda spoor, sreban yang berasal dari bahasa Persia saurban.


Sumber :
Catatan Kuliah Kemahiran Bahasa Jawa I
id.wikipedia,org


                                                  -bersambung-

Senin, 16 November 2015

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Ganjuran

Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Ganjuran, merupakan salah satu Gereja yang sangat unik dan kental sekali dengan budaya Jawa. Terletak di bagian selatan Yogyakarta, tepatnya di wilayah Bambanglipuro, kabupaten Bantul. Gereja ini menjadi salah satu tempat hening tak hanya bagi para umat Kristiani, namun tempat ini banyak pula dikunjungi oleh masyarakat umum.

Candi HKTY Ganjuran
Dokumentasi Pribadi



Sekelumit Sejarah Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran

Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran berdiri pada 16 April 1924, namun baru beberapa bulan kemudian, tepatnya tanggal 20 Agustus 1924, Vicaris Apostolik Batavia Mgr. J. M Van Velsen hadir di Ganjuran untuk memberkati altar. Dibangun atas prakarsa Keluarga Schmutzer, sebuah keluarga yang memiliki pabrik gula di area yang sekarang menjadi kompleks Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran. Hal ini membuktikan bahwa Kelaurga Schmutzer tidak hanya memikirkan kesejahteraan masyarakat dalam bentuk ekonomi saja, namu juga perkembangan kekatolikan. Sebagai seorang Belanda yang jatuh cinta pada budaya Jawa, Schmutzer memiliki keinginan membuat sebuah gereja dengan corak Jawa. Oleh karena itu, Schmutzer meminta izin kepada Tahta Suci untuk membangun gereja dengan corak Jawa. Namun, hanya patung Altar Jawa dan patung Hati Kudus Yesus yang disetujui oleh Tahta Suci. Bangunan Gereja masih menggunakan gaya bangunan Belanda.


Ornamen gapura masuk Gereja HKTY Ganjuran
Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi


Pada sekitar tahun 1912, Schmutzer bersaudara, Julius dan Yoseph Schmutzer mulai mengamalkan ajaran sosial gereja bagi kaum buruh yang tertuang dalam Rerum Novarum. Keluarga Schmutzer mulai membangun fasilitas sekolah pada sekitar tahun 1919.
Pada sekitar tahun 1920, Pastor Van Driessch mulai berkarya di tempat ini. Pada tahun 1922 terdapat 22 orang Katolik Jawa, jumlah ini terus bertambah. Pada 16 April 1924, Gereja Katolik Hati Kudus Yesus mulai dibangun dengan nuansa Jawa.
Pahatan patung dikerjakan oleh seorang seniman Jawa bernama Iko. Tiga tahun kemudian mulai didirikan candi Hati Kudus Yesus tepat di depan rumah Keluarga Schmutzer. Tinggi Candi sekitar 10 meter, dengan bangunan candi bergaya Hindu yang diilhami dari Candi Prambanan. Selain itu, Candi juga dipengaruhi budaya Jawa para patung dan ornamennya. Batu yang digunakan untuk membuat candi diambil dari lereng Gunung Merapi, sedangkan pintu masuk terletak di sebelah selatan, hal tersebut seperti apa yang dipercaya masyarakat Jawa tentang harmoni antara arah utara dan selatan, harmoni antara gunung dan laut.



Dokumentasi Pribadi




Bangunan utama gereja berbentuk Joglo, dengan hiasan ornamen bergaya Jawa, serta pahatan-pahatan. Bangunan Gereja juga dihiasi sebuah jajaran genjang di langit-langit yang disebut dengan wajikan yang dihiasi dengan pahatan kayu berbentuk nanas. Sedangkan altarnya dihiasi dengan patung Malaikat dalam versi Jawa.

Tujuan dari pembangunan candi tersebut adalah sebagai monumen atas keberhasilan pabrik gulanya (Gondanglipuro) yang lolos dari krisis keuangan yang melanda dunia saat itu. Dimana pada saat itu banyak pabrik gula yang bangkrut, namun pabrik gula Keluarga Schmutzer mampu bertahan. Selain sebagai monumen ungkapan syukur atas kejayaan pabrik gula, monumen ini juga dibuat sebagai ungkapan iman Schmutzer kepada Hati Kudus Yesus dalam bentuk kebudayaan Jawa. Peletakan batu pertama pembangunan candi Ganjuran dilakukan pada tanggal 26 Desember 1927 oleh Mgr. Van Velsen, SJ. Pada waktu itu juga dilakukan pemberkatan patung Hati Kudus kecil yang ditanam di dalam.


Patung Sampeyan Dalem Maha Prabu Yesus Kristus Pangeraning Para Bangsa
Dokumentasi Pribadi

Julius Schmutzer jatuh sakit dan harus mendapatkan perawatan serius, oleh karena itu pada tahun 1934 keluarga Scmutzer memutuskan untuk kembali ke Belanda, dan menetap di Arnheim. Pengelolaan pabrik gula diserahkan kepada seorang administratur yang ditunjuk oleh keluarga Schmutzer. Kepergian keluarga Schmutzer berdampak bagi para katekis awam, karena sebelumnya semua fasilitas didapat dari keluarga Schmutzer. Mereka dengan mandiri untuk terus mengajar agama di berbagai tempat. Demikian pula dengan pastur yang berkarya di Gereja Ganjuran tidak lagi mendapatkan fasilitas dari pabrik gula. Ada 3 orang pastor yang berkarya di Gereja Ganjuran sampai tahun 1934, yaitu H. van Driessch, SJ, F. Strater, SJ, dan A. Djajaseputra, SJ. Sekolah-sekolah yang dibangun oleh keluarga Schmutzer diserahkan kepada Yayasan Kanisius. Tahun 1934-1940 merupakan masa persiapan menjadi sebuah paroki yang diperjuangkan oleh pastor A. Soegijapranata, SJ dan pastor A. Elfrank, SJ, namun baru resmi menjadi sebuah paroki pada tahun 1940 dengan pastor A. Soegijapranata, SJ menjadi pastor paroki yang pertama. Seiring perkembangan umat Katolik yang pesat, bangunan Gereja tidak lagi mampu menampung umat yang semakin banyak. Pada tahun 1942, dilakukan perluasan gedung ke arah barat dengan panjang sekitar 15 meter oleh pastor Soegijapranata, SJ.



Dyah Mariyah Iboe Ganjuran
Dok. Pribadi
Pada tahun 2006, gempa dahsyat mengguncang wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, dan Gereja ini mengalami kerusakan yang cukup parah, serta mengalami proses renovasi.




Bangunan bagian dalam Gereja
Kegiatan peribadatan dilakukan baik di dalam gereja, maupun di pelataran candi, dan pada beberapa perayaan masih menggunakan unsur budaya Jawa yang kental, misal dengan penggunaan Gamelan, kostum liturgi yang menggunakan unsur budaya Jawa. 
Di kompleks Gereja Katolik Hati Kudus Yesus juga terdapat panti asuhan, kompleks sekolah dan rumah sakit. Selain gereja dan sekolah, keluarga Schmutzer juga membangun Rumah Sakit di Yogyakarta, antara lain Rumah Sakit Elisabeth, serta Rumah Sakit Panti Rapih, yang dulunya bernama Onder De Bogen
Peziarah yang datang bukan hanya peziarah dari kalangan umat Nasrani saja, namun banyak umat berbeda keyakinan yang datang dan berziarah di tempat ini, karena Tuhan ada dalam diri setiap manusia. Heneng, hening, henung.

Sumber :
https://en.wikipedia.org/wiki/Ganjuran_Church
http://gerejaganjuran.org/site/profile/ganjuran
pengalaman pribadi
buku panduan doa Candi Hati Kudus Yesus ganjuran


Foto : Dokumentasi Pribadi

Rabu, 08 April 2015

Makam Imogiri (Bagian II, tamat)

       Makam Imogiri terletak di desa pajimatan, kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Makam tersebut berdiri pada ketinggian 35-100 mdpl. Letaknya yang tinggi tersebut sesuai dengan filosofi Hindu dimana tempat yang tinggi dipercaya sebagai tempat yang suci, jalan menuju swargaloka, di percaya pula bahwa tempat yang tinggi merupakan tempat para Dewa bersemayam.


Dalam proses pembangunan makam, Sultan Agung menunjuk seorang adipati dari Jepara yang bernama tumenggung Tjitrokoesoemo sebagai kepala pelaksana. Pembangunan Makam tersebut dimulai pada sekitar tahun 1630.
Arsitektur makam Sultan Agung kental sekali dengan gaya bangunan yang merupakan pengaruh budaya Hindu. Memang hal tersebut bukan hal baru, karena budaya yang berkembang di Pulau Jawa pada masa itu masih dipengaruhi oleh budaya Hindu. Pengaruh budaya Hindu sangat terlihat dari ornament-ornamen yang menghiasi gapura, kelir/rana/tembok pembatas, dan tembok/beteng sekeliling makam.
Untuk mencapai lokasi makam Sultan Agung yang disebut Kedhaton Kasultanagungan harus melewati jalan yang penuh dengan tangga, dan memasuki tiga gapura yang banyak mengandung unsur ragam hias flora, seperti motif sulur-suluran.
Nah, jika anda akan memasuki gapura di kompleks makam Sultan Agung, anda akan menjumpai rana/kelir sebagai sekat yang bentuknya menyerupai pagar tembok bata yang dihiasi corak-corak ragam hias geometris, serta ragam hias tumbuhan/flora. Fungsi rana/kelir itu sendiri adalah untuk menghalangi pandangan para pengunjung agar tidak melihat secara langsung bagian dalam makam. Namun, secara simbolik rana/kelir ini dipercaya sebagai penolak masuknya roh jahat.
Makam Sultan Agung sendiri dinaungi bangunan yang berbentuk joglo, beratap tumpang, dan puncaknya dihiasi ornament mahkota yang bermotif seperti lidah api. Bangunan tersebut disangga dengan tiang-tiang berhiaskan ragam hias semacam kaligrafi.
Di antara makam lain yang ada di kompleks Makam Imogiri, Kedhaton Kasultanagungan lah yang dianggap paling sakral, dan banyak dituju oleh para peziarah. Selain Sultan Agung, di kompleks Kedhaton Kasultanagungan juga dimakamkan GKR Batang, permaisuri Sultan Agung, serta Amangkurat II. Sedangkan di halaman sekeliling makam terdapat hamparan pasir yang konon berasal dari laut selatan.

Nisan Sultan Agung dihias dengan kain kelambu, serta dinyalakan lilin di sisi kanan dan kiri nisan sebagai penerangan. Hal yang menarik ketika kita masuk ke dalam bilik Makam Sultan Agung yaitu terdapat semerbak bau wangi yang konon berasal dari lantai makam. Konon bagian yang berbau harum tersebut merupakan tanah yang dilemparkan Sultan Agung dari Mekkah. Ada pula cerita yang mengatakan konon jasad Sultan Agung tidak dimakamkan tepat di bawah nisan seperti umumnya, namun dimakamkan di bawah lantai yang berbau harum tersebut.


gapura Kedhaton Kasultanagungan



Nisan Sultan Agung dijaga oleh dua orang juru kunci, yaitu juru kunci dari Kasultanan Yogyakarta, dan Kasunanan Surakarta.
Dinasti Mataram Islam mengalami perpecahan semenjak adanya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Oleh karena itu, kompleks makam Imogiri juga mengalami perubahan menjadi Kedhaton Kasultanagungan berada di puncak bukit, Kedhaton Hamengkubuwanan di sisi sebelah timur sebagai kompleks makam raja-raja dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Kedhaton Pakubuwanan terletak di sisi barat sebagai makam raja-raja Kasunanan Surakarta.

kompleks Makam PB X

Untuk mencapai Makam Imogiri, pengunjung harus menaiki jajaran anak tangga yang menjulang tinggi. Pengunjung akan menaiki sekitar 399 buah anak tangga yang dihitung dari pelataran masjid yang terletak di bagian bawah makam, hingga Halaman Supit Urang. Hitungan tangga akan berbeda-beda pada masing-masing individu. Sebelum mencapai Kedhaton Kasultanagungan pengunjung akan menemukan persimpangan tiga. Dari persimpangan tiga tersebut, jika pengunjung ingin menuju ke Kompleks Makam Raja-raja Kasunanan Surakarta, pengunjung tinggal berjalan kea rah barat, sedangkan jika ingin menuju ke Kompleks Makam Raja-raja Kasultanan Yogyakarta, kearah timur.

Hal unik yang kita temukan di kompleks Kedhaton Kasultanagungan adalah ketika telah sampai di Halaman Supit Urang, pengunjung harus menginjak tangga yang bentuknya berbeda dari tangga yang lain. Konon, bagian tangga tersebut merupakan salah satu bagian dari kubur Tumenggung Endranata yang mengkhianati Mataram Islam, namun ada pula yang mengatakan bahwa tangga tersebut merupakan kubur JP. Coen.

Tata Cara Berziarah
Pada zaman sekarang, Imogiri telah berkembang menjadi salah satu obyek wisata ziarah. Masyarakat luas sudah diperbolehkan mengunjungi makam, dan berziarah. Namun terdapat tata cara dan peraturan ziarah tetap berlaku, karena bagaimanapun juga makam Imogiri masih dianggap keramat oleh masyarakat Jawa.


      Tata cara ziarah pun sudah ditentukan sejak masa Sultan Agung, dan hingga sekarang masih mengikuti aturan/pakem yang berlaku. Bagi kaum pria dewasa, harus mengenakan surjan, kain batik (selain motif parang), serta blangkon. Sedangkan untuk kaum perempuan dewasa, wajib mengenakan kain dengan kemben tanpa kebaya, rambut disanggul tekuk, atau diurai (bila rambutnya pendek). Ketika berziarah ke Makam Imogiri tidak diperkenankan memakai perhiasan (untuk rakyat biasa), sementara putri raja diperkenankan memakai kebaya. Sedangkan untuk anak perempuan, kostum yang digunakan sama dengan kostum perempuan dewasa, hanya saja kain yang dikenakan dibuat dengan model sabuk wala


    Sebaiknya apabila berziarah ke Makam Imogiri pada hari Senin atau Jum’at, karena semua Kedhaton dibuka.


jadwal buka Makam

Sumber :
Pengalaman Pribadi
Cerita Simbah-simbah dekat Imogiri
google

Sumber foto :
dokumentasi pribadi

Jumat, 27 Maret 2015

Makam Imogiri (Bagian I)

Makam Imogiri, merupakan makam bagi Raja-raja dari Kerajaan Mataram Islam (Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta), beserta keluarga. Kompleks pemakaman ini terletak di Yogyakarta bagian selatan, tepatnya di dusun Pajimatan, Girirejo, Kecamatan Imogiri, Bantul. Kompleks makam ini di anggap suci bagi masyarakat Jawa.

Makam Imogiri merupakan salah satu karya besar Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja terbesar dinasti Mataram Islam. Imogiri berasal dari kata bahasa Jawa Kuna yang terdiri dari kata ima/hima (kabut), dan giri (gunung). Kompleks pemakaman ini terletak di area pegunungan yang bernama pegunungan merak, konon menurut kepercayaan tempat yang tinggi lebih dekat dengan Sang Pencipta, serta arwah para nenek moyang.

Pada masa hidupnya, Sultan Agung memang memiliki perhatian yang besar terhadap kehidupan spiritual. Pada masa pemerintahannya, Sultan Agung terkenal sebagai “Sang Penakluk,” julukan tersebut terkait dengan kehebatannya menaklukkan berbagai wilayah kerajaan hingga wilayah Mataram menjadi sangat luas. Dalam proses invasinya ke berbagai wilayah, tercatat bahwa Sultan Agung pernah mengalami kegagalan ketika menyerang VOC di Batavia.

 Kegagalan tersebut menyebabkan sebagian besar prajuritnya tewas secara mengenaskan, mayat para prajurit yang bergelimpangan menyebabkan hati Sultan Agung sedih. Sebagai raja, Sultan Agung ingin jasadnya dikebumikan secara layak dan dihormati oleh rakyat Mataram beserta para keturunannya. Sultan Agung pernah memiliki niat dimakamkan di Mekkah, namun keinginannya ditolak oleh seorang imam di Mekkah, yaitu Imam Supingi. Konon dalam diri Sultan Agung melekat mitos yang menggambarkan dirinya sebagai setengah jin, setengah manusia. Konon ada seorang wali yang menyarankan akan lebih baik jika kelak jasadnya kelak beristirahat tidak jauh dari rakyat Mataram.

Sultan Agung melakukan laku spiritual untuk mewujudkan pembangunan makam. Melalui berbagai ‘lelaku,’ akhirnya ditentukan lokasi tanah makam di daerah dataran tinggi Girilaya. Lokasi tersebut dianggap sangat cocok dijadikan pemakaman. Letak tempat yang tinggi pada kebudayaan lampau dipercaya sebagai tempat yang sakral.

Pada waktu proses pembangunan makam berlangsung, Sultan Agung pergi untuk memimpin pasukan Mataram ke Jawa Timur. Kisah pembangunan makam pun berlanjut, ketika salah seorang paman Sultan Agung yang bernama Gusti Pangeran Juminah tertarik dengan pembangunan makam tersebut. Sebagai salah satu kerabat raja, ia merasa kelak patut dikebumikan di kompleks makam yang sedang dibangun tersebut. Maka, setelah Sultan Agung kembali ke istana, tanpa pikir panjang ia mengutarakan keinginannya tersebut.

Sultan Agung tidak berkenan dengan maksud yang diutarakan pamannya, dan merasa kesal, serta terlangkahi. Dengan suara lantang Sultan Agung mempersilahkan tanah makam yang sedang dibangun makam bagi pamannya. Perkataan Sultan Agung tersebut bagaikan sebuah kata-kata bertuah, tidak lama kemudian sang paman pun wafat dan dimakamkan di Makam Girilaya. Peristiwa tersebut membuat Sultan Agung mencari tempat baru untuk peristirahatan terakhirnya. Untuk mencapai keinginan tersebut Sultan Agung mulai menjalankan ‘lelaku’ spiritual.

                Pada suatu hari, Sultan Agung memanggil abdinya yang bernama Kyai Singaranu untuk menemani dan membawakan panah baginya. Setibanya di sebuah tempat Sultan Agung membidikkan panahnya untuk menentukan lokasi tanah yang akan dibangun sebagai  tempat pemakaman, dan anak panah pun melesat kearah selatan, kemudian jatuh tepat di puncak pegunungan Merak, barat daya Girilaya. Di sinilah makam imogiri akhirnya dibangun.


(bersambung)