Laman

Sabtu, 12 Mei 2012

Masjid Laweyan



Masjid Laweyan merupakan masjid pertama di Kerajaan Pajang, masjid Laweyan ini di bangun pada tahun 1546.  Masjid Laweyan ini terletak di dusun Belukan, kelurahan Pajang, kecamatan Laweyan. Masjid yang  juga terletak di kampung batik Laweyan ini memiliki sejarah dan kontribusi yang cukup besar dalam penyebaran agama Islam di Karesidenan Surakarta.
            Pada awalnya Masjid Laweyan merupakan pura agama Hindu milik Ki Beluk. Ki Beluk merupakan seorang pandhita yang memiliki hubungan dekat dengan Ki Ageng Henis yang merupakan sahabat dari Sunan Kalijaga. Dengan pendekatan damai, karena kemuliaan sifat Ki Ageng Henis, Ki Beluk memeluk Islam. Sanggar milik Ki Beluk pun kemudian diubah menjadi langgar (mushala), seiring dengan banyaknya rakyat yang mulai memeluk agama Islam, bangunan dirubah fungsinya menjadi Masjid.  Sedangkan nama Kampung belukan itu sendiri berasal dari kata beluk yang berarti asap. Konon dengan banyaknya rakyat yang memeluk agama Islam berdirilah sebuah pesantren yang pengikutnya banyak, karena banyaknya santri yang menjadi pengikut, maka pesantren ini tidak pernah berhenti menanak nasi dan selalu keluarlah asap dari dapur pesantren.
Wujud akulturasi budaya sangat terlihat pada arsitektur bangunannya beserta ornamen yang menghiasi. Letak masjid berada di atas bahu jalan merupakan salah satu ciri dari pura Hindu. Pengaruh Hindu terlihat dari posisi masjid yang lebih tinggi dibandingkan bangunan di sekitarnya. Saat ini, sejumlah ornamen Hindu memang tak lagi menghiasi masjid. Tetapi, ornamen Hindu seperti hiasan ukiran batu masih menghiasi makam kuno yang ada di kompleks masjid. Tata ruang Masjid Laweyan merupakan tipologi masjid Jawa pada umumnya. Ruang dibagi menjadi tiga, yakni ruang induk (utama) dan serambi yang dibagi menjadi serambi kanan dan serambi kiri. Pengaruh Kerajaan Surakarta terlihat dari berubahnya bentuk masjid menyerupai bangunan Jawa yang terdiri atas pendopo atau bangunan utama dan serambi. Ada dua serambi, yakni kanan dan kiri. Serambi kanan menjadi kempat khusus putri atau keputren, sedangkan serambi kiri merupakan perluasan untuk tempat shalat jamaah.
Ciri arsitektur Jawa ditemukan pula pada bentuk atap masjid, dalam arsitektur Jawa, bentuk atap menggunakan tajuk atau bersusun. Atap Masjid Laweyan terdiri atas dua bagian yang bersusun. Pada dinding masjid yang terbuat dari susunan batu bata dan semen. Penggunaan batu bata sebagai bahan dinding, baru digunakan masyarakat sekitar tahun 1800. Sebelum dibangun seperti sekarang, bahan-bahan bangunan masjid, sebagian menggunakan kayu. Bukti bahwa dinding awal Masjid Laweyan adalah kayu, ditunjukkan dengan adanya rumah pelindung makam kuno terbuat dari kayu. Cungkup (rumah) di makam kuno yang terbuat dari kayu semua membuktikan bahwa Masjid Laweyan semula berbahan kayu.
Salah satu peninggalan unik di Masjid Laweyan yang sering menjadi sasaran pengunjung adalah mata air sumur yang berada di sekitar kompleks masjid.
Konon sumur tersebut muncul dari injakan kaki Sunan Kalijaga. Hingga saat ini airnya tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau. Oleh sebab itu, banyak pengunjung yang memanfaatkan air tersebut untuk pengobatan.



1 komentar: